logo-hob

Berinvestasi di Alam untuk Ekonomi Hijau

Apakah perekonomian telah memberi jasa bagi masyarakat dan siap menghadapi perubahan iklim?

Click on the image to see large version

Penurunan pasokan air dan dampak intrusi air asin terhadap ketahanan air 

Penurunan aliran air musiman di sungai-sungai Kalimantan Barat menyebabkan peningkatan intrusi air asin, yang memberikan dampak signifikan terhadap kualitas air minum. Untuk meningkatkan kapasitas distribusi air di musim kemarau, Kota Pontianak di Kalimantan Barat membangun jaringan pipa kedua untuk mengambil air dari hulu dengan biaya tambahan lebih dari US$ 10 juta. Tambahan sejumlah US$ 2 juta/tahun, lebih dari US$ 2,5 juta/tahun di musim kemarau yang ekstrem, dibutuhkan untuk memompa air minum. 

Informasi lebih lanjut [114 Kb] 

Dampak kualitas air 

Perluasan perkebunan kelapa sawit mencemari sumber-sumber air melalui penggunaan pupuk, pestisida, dan pembuangan limbah pabrik kelapa sawit (POME) yang berlebihan atau tidak tepat. Dampak  pencemaran tersebut terhadap kualitas air paling parah terjadi selama musim hujan. 

Informasi lebih lanjut [140 Kb] 

Api dan asap mengganggu perekonomian 

Pada saat kebakaran hutan di tahun 1997-1998, total kerusakan yang secara langsung disebabkan oleh kabut asap akibat pembersihan dan pembakaran hutan mencapai US$ 1.012 juta untuk Indonesia, US$ 310 juta untuk Malaysia, dan US$ 104 juta untuk Singapura. 

Dampak meningkatnya timbunan lumpur terhadap transportasi sungai 

Kapasitas transportas–bukan hanya kapasitas produksi–adalah faktor utama yang membatasi hasil produksi perusahaan pertambangan batubara di Kalimantan Tengah dan Selatan. Tingginya kadar lumpur di Sungai Barito, yang berasal dari HoB, membatasi transportasi sungai hinggga sekitar 40% per tahun. Biaya pengerukan tahunan di pelabuhan Banjarmasin, di mana 30% sedimen berasal dari Sungai Barito, sebesar US$ 11 juta. 

Informasi lebih lanjut [140 Kb] 

Banjir mempengaruhi hidup dan infrastruktur 

Banjir telah menjadi hal biasa di Samarinda, di sepanjang Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, sejak pertambangan batu bara dan deforestasi dimulai di hulu. Banjir-banjir besar di tahun 2008-2009 mempengaruhi keluarga dan mengganggu perekonomian, transportasi, pekerjaan, dan mata pencaharian. Total biaya akibat banjir ini diperkirakan mencapai US$ 9 juta, sedangkan biaya pencegahan banjir lebih besar dibandingkan pendapatan kota yang berasal dari batubara. US$ 7 juta telah dihabiskan untuk membangun banjir kanal dan pemerintah telah mengembangkan sebuah rencana mitigasi banjir yang membutuhkan biaya sebesar US$ 350 juta.