logo-hob

Berinvestasi di Alam untuk Ekonomi Hijau

Hasil Pemodelan: modal alam

 

Berikut ini adalah temuan spesifik mengenai bagaimana tren pembangunan yang berbeda berdampak pada modal alam, sehingga mengurangi manfaat sosio-ekonomi yang diperoleh dari modal alam. 

Heart of Borneo menyediakan air bagi 70% populasi Kalimantan. 

Hasil pemodelan menunjukkan bahwa Heart of Borneo memberikan kontribusi sebesar 60%, 40%, dan 55% dari suplai air tahunan masing-masing untuk daerah aliran Suntai Kapuas, Kapuas-Barito, dan Mahakam. 

Kualitas air dipengaruhi oleh pengembangan kelapa sawit berskala besar. 

Click on the image to see large version

Peta penyebaran nitrogen, dimana merah berarti tinggi dan kuning adalah rendah, untuk tiga daerah aliran sungai yang berasal dari HoB. Peta kiri menunjukkan pencemaran nutrisi di tahun 2009 mempengaruhi fasilitas air minum. Peta kanan menunjukkan kemungkinan distribusi polusi nutrisi dan fasilitas air minum yang terdampak di bawah BSB pada tahun 2020 

Analisis InVEST menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit mempengaruhi kualitas air dengan meningkatnya penyebaran nitrogen akibat penggunaan pupuk secara ekstensif yang mempengaruhi fasilitas air setempat. Dengan bisnis seperti biasa, penambahan pupuk dan hilangnya tepian hutan sebagai penyaringan di sepanjang anak sungai dapat meningkatkan penyebaran nutrisi sepuluh kali lipat dibandingkan tahun 2009 di tiga daerah aliran sungai yang diteliti. Hasil yang sama mungkin terjadi untuk polutan lain seperti pestisida. 

Perubahan menyeluruh dengan praktik Pengurangan Dampak Penebangan (Reduced Impact Logging/RIL) menjaga karbon dan mengurangi erosi dan sedimentasi sungai. 

Tambahan sekitar 115 juta ton karbon (tC) dapat disimpan dengan melaksanakan RIL di 158 konsesi kayu. Dengan perbaikan praktik pengelolaan kayu, sekitar lebih dari 19 ton karbon (tC) per hektar dapat disimpan dibandingkan dengan praktik pengelolaan konsesi yang ada. 

Berdasarkan biaya sosial (yaitu kerusakan pada masyarakat global) dari emisi ini, nilai sosial penyimpanan karbon hampir mendekati US$ 4 miliar. Di daerah aliran sungai Mahakam, analisis InVEST menunjukkan bahwa pengelolaan kayu yang lebih baik dapat meningkatkan retensi sedimen di tahun 2020 hingga mendekati 900.000 ton di seluruh 49 konsesi kayu di daerah aliran sungai, dengan menghindari erosi sekitar 37 ton tanah per hektar setiap tahun. 

Skenario EH menghasilkan stok karbon yang lebih tinggi dibandingkan BSB–mengurangi proyeksi pengurangan stok karbon. 

Berdasarkan proyeksi hilangnya tutupan hutan sebesar 3,2 juta ha, perbedaan stok karbon antara skenario BSB dan EH adalah sebesar 1,2 milyar ton CO2e, 23% di antaranya merupakan kontribusi perubahan tata guna lahan di HoB. 

Dengan asumsi harga karbon sebesar US$ 2/ton dan US$ 15/ton, total nilai proyeksi pengurangan stok karbon di bawah skenario EH adalah antara US$ 2,4 miliar dan US$ 18 miliar. 

Skenario EH meningkatkan fungsi tanah. 

Intervensi ekonomi hijau juga meningkatkan kemampuan tanah untuk menjalankan fungsinya dalam ekosistem yang dikelola secara alami dan berkelanjutan. Fungsi-fungsi ini, di antaranya, mencakup penyimpanan karbon dalam bahan organik, kemampuan tanah untuk menahan air, aliran nutrisi, dan pengendalian erosi tanah. 

Skenario EH menghasilkan infrastruktur ekologi yang lebih efektif. 

Ketika sistem transportasi sungai tidak lagi dipelihara karena transportasi massal telah menggunakan infrastruktur lainnya, masyarakat lokal menderita karena hal tersebut berdampak pada mobilitas mereka. Bagi mereka, sistem transportasi sungai adalah sarana transportasi termurah, dan dalam beberapa kasus bahkan menjadi satu-satunya alat transportasi. 

Skenario BSB memperlihatkan kecenderungan penumpukan lumpur dan sedimentasi yang memburuk, yang memerlukan investasi infrastruktur tambahan (untuk transportasi dan energi dalam beberapa kasus tertentu yang dianalisis), baik untuk perawatan tambahan maupun untuk membangun konstruksi pengganti infrastruktur ekologi hilang (seperti berkurangnya penggunaan sungai). 

Namun, mempertahankan ekosistem Heart of Borneo melalui intervensi ekonomi hijau akan memberikan dampak positif pada daerah aliran sungai. Kapasitas retensi sedimen akan meningkat karena berkurangnya residu, longsoran tandah, dan lumpur yang mengendap. 

Skenario EH menjamin pendapatan di masa depan dari peningkatan pengelolaan modal alam dan lahan. 

Pendekatan ekonomi hijau memungkinkan pemerintah-pemerintah di wilayah HoB untuk memanfaatkan kesempatan berharga segera setelah pasar dan mekanisme hijau yang sedang dikembangkan di bawah Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) dan inisiatif internasional lainnya berjalan. 

Penelitian menunjukkan bahwa wilayah HoB menghasilkan banyak jasa ekosistem dengan manfaat lokal, hilir, dan global yang secara luas akan dipelihara di bawah skenario EH. Ekonomi hijau menghasilkan perlindungan terhadap jasa ekosistem yang bermanfaat bagi perekonomian dan masyarakat Borneo, serta pemangku kepentingan global. 

Jenis paket kebijakan yang digunakan untuk mencapai ekonomi hijau merupakan akan menjadi penting dalam menentukan jenis investasi yang akan dilakukan dan timbulnya biaya dan manfaat, yaitu, siapa yang akan membayar dan siapa yang mendapat manfaat. 

Hasil-hasil ini menjadi landasan diskusi kebijakan mengenai investasi, kebijakan dan insentif yang akan diberlakukan oleh pemerintah pusat dan daerah. 

Untuk mengembangkan pekerjaan ini, upaya-upaya lebih ekstensif–khususnya dalam pengumpulan data secara sistematis, verifikasi hubungan antara fungsi ekosistem dan manfaatnya di tingkat lokal, dengan keterlibatan pemangku kepentingan yang kuat di tingkat daerah–sangat dibutuhkan. Temuan selanjutnya dapat secara aktif digunakan untuk mendukung pengambilan kebijakan ekonomi pada modal alam HoB untuk menciptakan manfaat sosial-ekonomi dan lingkungan, serta sinergi lintas batas.