logo-hob

Berinvestasi di Alam untuk Ekonomi Hijau

Masyarakat, Alam dan Ekonomi di Heart of Borneo Saat Ini

Meliputi sekitar 30% luas daratan Borneo, Heart of Borneo (HoB) mencakup lebih dari 22 juta hektar hutan hujan tropis di tiga negara: Brunei Darussalam, Indonesia (Kalimantan) dan Malaysia (Sabah dan Sarawak). Kawasan ini adalah hamparan terbesar yang tersisa dari hutan tropis yang melintas batas negara di Asia Tenggara. 

Click on the image to see large version

Menilai modal alam HoB

Harta karun terpendan HoB–kekayaan alamnya–dihargai masyarakat di tingkat lokal, nasional, dan global. Banyak aspek dari nilai ini yang sulit dihitung, seperti nilai sosial yang terkait dengan pengetahuan tradisional dan tempat-tempat suci, atau nilai keanekaragaman hayati dan ekosistem dalam menciptakan ketahanan terhadap perubahan iklim. 

Namun, nilai modal alam HoB juga secara langsung berhubungan dengan melimpahnya berbagai produk dan jasa yang disediakan oleh ekosistem kepada masyarakat dan perekonomian—yang lebih dipengaruhi oleh penilaian ekonomi. 

Nilai modal alam HoB bagi masyarakat lokal

Masyarakat lokal yang tinggal di wilayah HoB bergantung pada beragam jenis jasa yang disediakan oleh modal alam di wilayah tersebut. Bagi masyarakat adat Dayak, lebih dari satu juta yang tinggal di dalam HoB, wilayah ini telah memberikan banyak sumber daya hutan dan air tawar selama lebih dari ribuan tahun. 

Penduduk desa yang tinggal di wilayah HoB menggunakan area di sekeliling desa mereka sebagai kebun buah-buahan, agroforestri, dan ladang pertanian. Lebih jauh, mereka mengumpulkan kayu bakar dan produk hutan non-kayu, termasuk madu, kacang-kacangan, daging satwa liar, burung gereja, dan resin kayu yang dikenal sebagai 'gaharu'. Terakhir, perikanan air tawar juga menyediakan sumber protein penting bagi masyarakat ini. 

Ketergantungan ekonomi pada produk dan jasa ekosistem

Sektor yang lebih modern dari perekonomian Borneo, baik di dalam maupun di luar area HoB, sangat bergantung pada produk dan jasa ekosistem yang dihasilkan kawasan tersebut dalam proses produksi mereka. 

Industri seperti gas alam cair (LNG) di Brunei membutuhkan air dalam jumlah besar untuk pengolahan, yang sebagian besar berasal dari HoB. Pembangkit listrik tenaga air di Sarawak mendapat manfaat dari sedimen dan persediaan air yang terkandung dalam hutan HoB. 

Produksi minyak sawit yang berkelanjutan memerlukan ekosistem yang sehat dan jasa ekosistem terkait, termasuk jasa hidrologi dan dekomposisi dan siklus hara. 

Banyak perusahaan pertambangan di wilayah HoB mengandalkan transportasi berbasis sungai untuk membawa hasil produksi mereka ke pasar; mereka tergantung pada retensi sedimen hutan dan funsi pengendalian erosi untuk menghindari pengerukan yang mahal atau bahkan penutupan sementara. Pertambangan juga mendapat manfaat dari kemampuan ekosistem untuk mendetoksifikasi polutan. 

Berkat jasa ekosistem di atas—serta jasa lainnya seperti penyangga air, pemurnian air, pencegahan banjir, pengendalian hama dan pengaturan iklim—ekosistem HoB merupakan komponen penting yang mendasari produktivitas sektoral. 

Namun, kegiatan ekonomi saat ini memiliki dampak yang signifikan terhadap modal alam di wilayah tersebut dan mengikis kemampuannya dalam menyediakan beragam produk dan jasa secara berkelanjutan. 

Perubahan iklim memiliki dampak lebih lanjut, termasuk kenaikan permukaan laut, risiko banjir dan kebakaran, dan perubahan durasi dan intensitas musim hujan dan kemarau. Secara bersama dampak-dampak tersebut mempengaruhi sektor-sektor itu sendiri—menyebabkan erosi secara paralel terhadap prospek ekonomi dan kelangsungan hidup jangka panjang.