logo-hob

Berinvestasi di Alam untuk Ekonomi Hijau

Prakata

Oleh Sir David Attenborough

Kehidupan di Bumi tidak tersebar merata di seluruh planet kita. Borneo―pulau terbesar ketiga di dunia―adalah salah satu harta terkaya, yang dipenuhi dengan begitu banyak jenis satwa dan tumbuhan liar, semua hidup dalam sebuah hutan tropis yang sangat mengagumkan.

Wilayah hutan yang luas ini masih menyelubungi gunung, kaki bukit, dan dataran rendah di sekitarnya yang terbentang sepanjang perbatasan Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia. Inilah Heart of Borneo dan kita yang menghargai kehidupan di planet harus mendukung negara-negara ini untuk melestarikannya. Heart of Borneo adalah sebuah warisan dunia dan dunia harus memenuhi kebutuhannya.

Seperti kebanyakan hutan lainnya, hutan ini terancam oleh penggundulan atau degradasi, karena tekanan ekonomi dan sosial dari kehidupan di abad 21. Penebangan yang tidak berkelanjutan, pengalihan lahan hutan untuk pertanian dan pertambangan, dan peningkatan dampak perubahan iklim telah mengorbankan hutan. Borneo terancam bahaya kehilangan ekosistem berharga yang penting bagi kelanjutan hidup masyarakat lokal dan perekonomian nasional ketiga negara Borneo, serta menjadi bagian penting dari upaya global untuk menanggulangi perubahan iklim. 

Hutan Borneo menyimpan kekayaan alam dalam jumlah besar. Kita memanen produk kayu dan non-kayu dari beragam jenis tanaman dan satwa yang menakjubkan. Kita menikmati fasilitas yang mereka sediakan dan memasarkannya untuk ekowisata. Kita bergantung pada jasa air untuk rumah, pertanian, industri, dan transportasi kita; dan kita bergantung pada kemampuan alam menyimpan karbon dan mengurangi penumpukan gas rumah kaca di atmosfer.

Meskipun demikian, hingga saat ini kita hampir tidak pernah melakukan usaha untuk menghitung nilai mereka. Hutan adalah kekayaan alam yang terlalu mahal untuk disia-siakan, namun kita tidak tahu nilai sesungguhnya dari apa yang kita miliki di 'bank alam' kita.  Sistem keuangan nasional yang konvensional memberikan kita PDB dan pengukuran lainnya, tapi mereka gagal menghitung hal-hal yang tidak dapat dibayar dengan tunai, tanpa mempedulikan betapa berharganya mereka dan pengeluaran keuangan yang harus dibayar jika kita harus menggantinya.

Laporan ini akan membahas hal-hal yang kurang diperhatikan tersebut. dibutuhkan beberapa langkah awal untuk mengukur nilai alam yang tak kasatmata di Heart of Borneo dan memberitahu kita bahwa dengan tindakan bersama, jalur pembangunan hijau sangat mungkin dilakukan, dengan manfaat lebih besar bagi semua orang, termasuk masyarakat adat dan yang kurang mampu. Hal ini memberikan secercah harapan agar konservasi, pembangunan, dan pertumbuhan ekonomi berjalan berjalan seiring.

Untuk melaksanakannya, nilai nyata dari kekayaan alam harus tercermin, baik dalam perencanaan fiskal maupun harga produk dan jasa. Harus ada insentif finansial untuk merangsang pemeliharaan sumber daya alam secara tepat, dengan penilaian realistis sesuai isu yang sangat penting dari pertumbuhan pasar rendah karbon dan keberkelanjutan dan berpihak pada ekonomi yang kurang mampu. Pendanaan karbon melalui REDD+ dapat menjadi mekanisme penting untuk menjaga hutan dan mengungkap nilai sejati mereka.

Pemerintah harus memimpin dan bekerja sama dengan masyarakat, kelompok adat, dan sektor swasta agar pengelolaan hutan secara berkelanjutan menjadi berharga secara ekonomi. Heart of Borneo adalah tempat yang sempurna untuk memulai. Kita sangat membutuhkan jalan baru menuju masa depan yang berkelanjutan--yang menempatkan nilai ekonomi sesungguhnya terhadap anugerah alam dan peran mereka  dalam menyediakan kebutuhan hidup kita.

Laporan ini akan lebih mendekatkan kita dalam menciptakan  ekonomi hijau yang dapat menjamin ketahanan pangan, air, dan energi untuk semua.

Pengelolaan hutan secara berkelanjutan perlu menjadi prioritas politik universal. Perlindungan terhadap keanekaragaman hayati menjaga masa depan kita semua dan Heart of Borneo dapat menjadi contoh bagi dunia bagaimana hal ini dapat dicapai.